Banyak seni orang membangun rumah, sebab
banyak alternatif bahan yang dapat dipergunakan. Biasanya, perbedaan itu
menyangkut bentuk, bahan dasar, pengerjaan (finishing), tingkat
keawetan, dan tentu saja harganya. Untuk bahan membuat dinding, juga
bermacam-macam, tergantung selera berdasarkan pertimbangan di atas.
Untuk dinding bagian luar rumah yang masif
atau tertutup, setidaknya ada tiga macam, yaitu terbuat dari batu bata,
batako, dan bata ringan. “Ketiga bahan itu masih mewarnai model rumah
tahun 2013 ini, “ tutur perencana teknik sipil Ari Endro Kristianto.
Menurut dia, yang paling mencolok dari
ketiga jenis bahan itu adalah harga, dan harga banyak mempengaruhi
kualitas. Di luar itu, masih ada lagi bahan dinding lainnya, yaitu
dinding kaca yang bertekstur maupun yang bening. Bahan kaca, tentu saja
harganya lebih mahal dari ketiga bahan tadi.
Endro menjelaskan, dari ketiga bahan tadi,
sudah jelas menunjukkan kelasnya. Batako, biasa dipakai untuk perumahan
berpenghasilan rendah, batu bata dipakai untuk rumah-rumah kelas
menengah, dan bata putih nan ringan lebih terlihat dipasang di
rumah-rumah tingkat. Kadang antara batu bata dan bata putih dikombinasi.
Batu bata dipakai di lantai bawah karena berat, dan bata putih di
lantai atas karena lebih ringan.
Batako
Bahan dari batako tak kedam air dan mudah
terbelah. Bahannya terbuat dari campuran pasir, kapur, dan semen yang
dipadatkan. Batako dibuat dengan cetakan secara manual mupun dibuat
dengan cetakan di pabrik.
Pemasangan batako lebih mudah dan cepat,
tapi bahan ini mudah berlobang atau timbul lobang rambut jika campuran
plesterannya kurang bagus.
Batako ada dua jenis, yaitu batako tras
dengan ukuran panjang 25 – 30 cm, tebal 8 – 10 cm, dan tinggi 14 – 18
cm, mudah patah karena rapuh. Untuk dinding seluas 1 m2, kira-kira
membutuhkan 25 buah. Sedangkan batako pres berukuran panjang 36 – 40
cm, tebal 8 – 10 cm, dan tinggi 18 – 20 cm. Untuk dinding seluas 1 m2,
membutuhkan sekitar 15 biji.
Batako pres memiliki kelebihan kedap air
sehingga sangat kecil kemungkinan terjadinya rembesan air. Tapi
kekurangannya adalah murah timbul retak rambut dan gampang berlobang.
Bata bata
Dinding batu bata yang biasa dipakai di
rumah-rumah, baik komplek maupun rumah tradisional. Bata bata zaman dulu
kualitasnya bagus, karena proses pembakarannya cukup lama, jadi matang
seperti keramik. Ada yang dicetak secara konvensional, maupun dicetak
secara pabrikan, tapi prosesnya sama, dibakar. Batu bata yang baik
adalah yang keras, ditandai dengan warna merah kehitaman. Bata bata
sekarang kualitasnya tak sebaik batu bata tempo dulu. Tanda-tandanya,
bata bata berwarna merah cetak dan mudah terbelah.
Untuk memasang dinding bata, ada aturannya.
Tidak boleh langsung dipasang sampai atas, tapi pada ketinggian
tertentu, menunggu kering dan kuat, baru dipasang lagi. Dalam 1 m2,
terdapat 70-80 biji denganj ukuran 17 – 23 cm, lebar 7 – 11 cm, dan
ketebalan 3 – 5 cm.
Bata Ringan
Bahan dinding ini terbuat dari beton
ringan yang dicetak di pabrik. Kelebihan dari hebel adalah mudah dan
cepat dipasang. Bata Ringan saat ini juga dijual di toko bangunan.
Dibandingkan dengan batako dan batu bata, harga bata ringan lebih mahal
bata ringan pertama kali diperkenalkan oleh Joseph Hebel pada 1943 di
Swedia, sedangkan masuk Indonesia dan dikenal pada 1995.Masing-masing
bahan tentu mempunyai kelebihan dan kekurangannya.
beton ringan dibuat dari campuran sejumlah
bahan, yaitu pasir kwarsa, semen, kapur, sedikit gypsum, air, dan
alumunium pasta sebagai bahan pengembang (pengisi udara secara kimiawi).
Setelah adonan tercampur sempurna, nantinya akan mengembang selama 7-8
jam. Alumunium pasta juga berfungsi sebagai pengembang mempengaruhi
tingkat kekerasan beton. Adonan itu dipotong-potong dalam beberapa jenis
ukuran.
Umumnya memiliki ukuran 60 cm x 20 cm dengan ketebalan 8 cm – 10 cm.
Untuk dinding seluas 1 m2, kira-kira membutuhkan 7-8 biji.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar